6 Jenis Konflik Kisah Fantasy : Dilihat dari Hal yang Dihadapi



Konflik apa yang seru?

That, my ladies (and gentleman), is depending on what do you want to make. Berikut, saya copas dari sumber yang tertera di atas (cuma di translate doang, lolz) tentang 6 jenis konflik yang bisa kalian pakai untuk konflik utama kalian.

...eh, aku belum ngasih tau konflik utama dan konflik mini ya...

...sudahlah.


1. Character vs Lingkungan
Mau petualangan yang mendebarkan? Nah, mungkin kalian harus menaruh karakter kalian di tempat antah berantah, dan mereka harus survive di sana selama beberapa hari. Chances are, mereka bisa mati kebakar, mati karena sarang lebah, mati karena hewan buas, mati karena dehidrasi, mati keracunan, mati lainnya, deh. Atau alternatif lainnya, seperti diculik dan harus kabur. Itu juga survive dari kejaran musuh.

Survive di dunia baru, anyone?

Enggak banyak penulis FantasTeen yang pakai tema survival sebagai main conflict-nya. Meskipun Absolute Zero (by Fauzi Maulana) menggunakannya sebagai konflik latar.


2. Character vs Another Character
Ini bisa berujung pada rivality atau romance story. Seorang karakter melawan karakter lain demi mendapatkan hal yang diinginkannya. Bisa barang, cewek, atau bahkan kekuasaan (tapi kalau kekuasaan, kayaknya lebih pas kalau kita bilang konfliknya agak menjurus ke politik dan negara). Let's war. Roar.

Adik-kakak? Sahabat yang terkoyak? Permusuhan? Ah, how cute...

Kebanyakan PBC menggunakan tema ini (vs keluarga sendiri atau vs teman tukang bullying.) sampai aku enggak bisa sebut satu-satu. Wonderworks (Ziggy Z) menggunakan ini untuk klimaks dari kisah tersebut. GDiParis juga. Ah, ini mah hampir semua cerita ada ding. Ini konflik paling mainstream soalnya!


3. Main Character vs Dirinya Sendiri
Karena novel Indo masih kurang character development, contohnya jadi sedikit, eh?

Selamat datang di main topic yang paling seru buat ditulis : Main Character vs Self. Dimana karaktermu akan bertarung dengan sifatnya, keras kepalanya, dan juga perasaan dan akal sehatnya, untuk menyelesaikan apa yang harus ia selesaikan. Terdengar rumit? No. Konflik jenis ini memperdalam karaktermu.

Sungguh. Kau membiarkan pembaca berpetualang dengan pikiran karaktermu. Jadi seru, kan?

Kasus yang kurang sering ditemukan di dalam buku. Despration emang gak ada di novel FantasTeen. Cih. Tapi kalau mau gambaran, Lucid Dream (by Ziggy Z... again) menggunakan ini untuk main road dari konflik yang dijajarkannya. Mencari alasan kenapa hal ini terjadi padanya mereka. Ini juga yang membuat Nadine Harper jadi karakter yang lebih hidup!

"No one ever wish to die," right? :v

Contoh lainnya adalah penulis yang baru naik daun(?), Tessia di Alive, yang memainkan keinginan karakter utamanya untuk menciptakan plot twist di tengah kisah. Ehe, no spoiler. Support the authors by buying their book. Please?


4. Character vs Masyarakat
Ini sih, sedikit. Mungkin konflik seperti ini ditulis dalam novel berat seperti Negeri di Ujung Tanduk (the first serious fiction, 350 pages book I ever read) dan Absolute Zero (Iya, itu FantasTeen. Walaupun kisahnya cukup berat, tapi itu seru).

Aku tidak menyarankan ini ke penulis muda, tapi sekedar pengetahuan saja, Main Character vs Masyarakat ini seperti kritik pada pemerintah, kritik sosial, juga tema yang agak nyepet-nyepet lah. Agak. Bisa juga seperti tawuran, atau juga membela KPK. Atau membela teroris macam ...bla-bla-bla Advanced Warfare... FPS game yang itu loooh... aku lupa namanya.

Ya... contohnya kita ambil deh, buku FantasTeen yang ngasih tema konflik utamanya pembodohan media. Konspirasi media yang melibatkan teroris, pembela dunia dan global warming. Kurang berat apa coba buku itu?


5. Character vs Supernatural Things
Hantu, vampir, makhluk astral!! That's quite ridiculous, but that's a great conflict! Ini lagi populer di kalangan masyarakat pembaca FantasTeen, dan mengalami puncak di tahun kemarin. Semoga enggak lagi. Aku udah mau baca Fantasy dan petualangan, tapi FantasTeen berubah jadi HorrorTeen.

Cih. Contoh kasusnya adalah pembunuhan makhluk astral, penghisapan darah, pembantaian oleh arwah penasaran, dan masih banyak lagi.

Contoh karya yang diterbitkan dengan tema ini adalah adalah Alive by Tessia, Ghost Dormitory series, Haunted School by Akbar, Terrible Mission, dan masih banyaaaaaaakkkk lagi. Keburu malem kalau aku sebut satu-satu. Cari aja sana sendiri.


6. Character vs Technology
Tapi aku juga gak bisa nulis ini banyak-banyak!! Huweeee...

Ini juga anti-mainstream di Indonesia, apalagi di dunia kepenulisan anak-anak dan remaja. Aku sendiri pernah bikin dan hasilnya gak bagus. Ya... gimana cara jelasin yang ini?

Karakter vs Teknologi bisa kayak Final Fantasy VII, atau bisa kayak pertarungan android melawan manusia, menggunakan Cyborg. (Hayo, bedanya apa hayooo) juga bisa seperti teknologi mulai mengancam umat manusia perlahan-lahan.

Butuh rencana matang di konflik jenis ini. I hope you can do it.


See you later, Ladies and Gentlemen!

Rohie out.

Komentar

  1. Kayaknya kalau Character vs Self contohnya mungkin bisa dari drama Korea Hyde, Jekyll, Me karena si tokoh utamanya ingin agar dirinya yang lain (dia penderita DID) hilang. Menurutku kalau plot-nya seperti itu, lebih baik dikirim ke PBC karena DID itu beneran.

    BalasHapus
  2. I'm trying to use FantasTeen books as reference(s)

    Kalau seandainya enggak, aku udah pake kisah-kisah wattpad sekalian. Tapi itu drama seru gitu?

    *goes off downloading*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dramanya bagus, kok. Plot twist-nya greget tapi rada-rada thriller. Soundtrack-nya bagus, tapi ada adegan ciumannya... Kalau gak bisa di-download baca recap alias sinopsisnya. Ada banyak blog yang bikin begituan.

      Bagi, pembaca yang gak tahu apa itu DID, DID itu istilah medis untuk Gangguan Identitas Disosiatif atau bahasa gampangnya penyakit identitas ganda. Gampangnya, atu badan 2 kepibradian atau jiwa. Ruwetnya, sana tanya Om Wiki.

      Hapus
  3. Halo Rohaluss :))
    Kebetulan aku juga penggemar fantasy loh! meskipun bukan fantasteen tapi manga.
    BTW, menurutku, hampir di setiap cerita selalu aja tetep aja character vs other chara kan? Meskipun main conflictnya bukan itu. BTW aku suka blog kamu soalnya asik, isinya tentang tips-tips menulis :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo juga Seruni! Senang bertemu denganmu!
      *highfive*
      Tepat sekali! Konflik karakter pasti ada. Mau itu latar, atau main conflict, apapun!

      Terima kasih support-nya! Sampai jumpa lagi, Seruni!

      Hapus
  4. Kalo misalnya semua konflik di atas disatukan dalam sebuah cerita. Kira-kira bagus gak? Campur adukin semua?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Novel kamu berapa halaman cin?

      Aku bikin 3 konflik buat novel fantasteen aku, dan jumlahnya 94 halaman! Yakin bisa menyelesaikan semua konflik itu, merajutnya menjadi 1 kesatuan cerita, dan berakhir dengan kepuasan pembaca mendengar konklusinya?
      (Btw, just in case you don't know 94 halaman itu seberapa banyak, A4, Times new roman, space 1.5)

      Kalau bisa dan halaman memadai, silahkan. Tapi kalau ada batasan halaman dan mau dipanjangin, JANGAN DAH :v nanti bingung sendiri!

      Konflik aku sih, difokuskan pada satu hal, sisanya cuma mempersulit. Dijahit dengan rapih, dan VOILA! Jadi ada 1 konflik utama (dimana karakter utama mencari tahu apa yang salah dengan kakaknya) dan 2 konflik tambahan (Kota yang gelap dan misterius dan MAYAT HIDUP EVERYWHERE!). So... I guess... saran aku, sih...

      ...Lihat halaman yang ditentukan penerbit :v

      Udah ya, semoga membantu.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer