Menulis : Sekolah Asrama | Rohaluss dan Pengalamannya

Ini dari sisi Rohaluss sendiri, dimana Rohaluss selama SMP bersekolah di asrama yang Semi-Boarding School.

Nanti, di akhir referensi ini aku akan memberikan beberapa arahan tentang menulis tentang sekolah asrama.


ROHALUSS DAN SEKOLAH SEMI-BOARDING : TAHUN PERTAMA

1. Sistem Asrama
Di sekolah SMP-ku dulu, mendiami asrama adalah pilihan, tidak wajib. Seseorang yang tinggal jauh dari sekolahnya dapat memilih untuk tinggal di Asrama atau tinggal bersama kerabat yang dekat dengan sekolah. Tentu saja, sebagai anak asrama kadang saya merasa iri dengan teman-teman saya yang bisa pulang-pergi ke rumah dan sekolah.

2. Area Sekitar Asrama
Asramaku dekat dengan sekolah, tiga warung, dua toko seblak (important gak sih?), sebuah minimarket dan jalan raya yang tidak begitu ramai. (Ngamprah bukan tempat yang begitu luas, meskipun namanya Ngamprah. Orang sunda pasti ngerti) Beberapa tempat jadi tempat nongkrong anak asrama. Terutama warung yang menjajakan es dingin tiap sepulang dari masjid.

3. Peraturan
Asramaku tidak memiliki peraturan ketat, jadi aku bisa berjalan-jalan di sekitar situ. Kadang aku membeli pensil dan pulpen dengan berjalan cukup jauh dari asrama. No punishment, really. Asalkan kamu tidak terlambat ke mesjid pada jam 6 sore, mengerjakan tahfiz dan tidak keluar asrama setelah jam setengah delapan malam, tidak ada pengurangan poin yang drastis.

Handphone disita dari jam 6 sore. Dikembalikan pada jam 6 pagi setelah sarapan, untuk mengkontak orangtua dan teman jika dibutuhkan. Tentu saja, benda berharga harus dititipkan lagi saat pergi ke sekolah. Repot, memang. Aku bersyukur aku belum memiliki handphone pada saat itu.

Bagaimana dengan laptop? Jujur, saya aktif menulis blog dari kelas 1 SMP. Waktu itu, blog ini memuat kisah fantasy (update setiap 2 minggu) berjudul Reya dan Bulan Kaca. Tapi karena ada komentar yang nyelekit ke saya dan saya belum siap menerima kritik, blog ini berubah menjadi... ya, menjadi apa yang kalian baca sekarang!

Laptop dikumpulkan maksimal jam 9 malam. Aku sendiri pasti tidur jam 9 karena aku menulis naskah kedua yang akhirnya ditolak lagi sama FantasTeen. Ah, nostalgia...

4. Gossip, Momment dan Kisah
a. Gossip
Aku disukai oleh cowok yang mengajakku berbicara di perpustakaan. Lol.

Oke, kalian biasanya seneng diajak ngomong ginian. Sekolahku memang memisahkan kelas wanita dan pria, tapi ada beberapa ruangan yang ditempati dua gender tersebut. Satu, perpustakaan. Dua, lab science dan tiga, kantin. Aku menghabiskan waktu menangis (I was alone, dan aku enggak bisa berbaur dengan baik) dan berbicara seorang diri (untuk inspirasi karakter novel dan menghilangkan rasa kesepian). Tapi aku juga enggak mau dicap orang aneh, jadi daripada melakukan kedua hal tersebut aku lebih baik membaca buku.

Nah, aku enggak inget siapa yang mengajakku berbicara. Mataku masih membaca majalah lama, tapi sumpah, itu percakapan basa-basi banget. Aku masih inget majalah Tr*b*s yang aku baca dan pertanyaan dia. NAH, ternyata dia anak asrama juga. Awkward bener pas dua penggosip asrama teriak ke aku (yang lagi mabal murajaah Qur'an) dan bilang "WOY, ALIA, SI FULAN SUKA SAMA KAMU LOH!!"

Sial. Enggak enaknya apa? Kamu kalau digosipin gitu di asrama, apa-apa jadi enggak enak. Ugh...

b. Moment
Kakak kelas aku kerasukan setelah kecapekan belajar.

Dan itu serem banget, sumpah. Guru PAI langsung dipanggil ke asrama. Saya masih inget badan dia panas, dan saya bantu dia supaya tangannya tidak mengepal. (Entah apa alasannya. Katanya biar setannya gampang keluar, tapi alasan yang menurut aku bener mah, kakak kelas aku bisa melukai tangannya sendiri dengan kuku)

Kocaknya, pernah sekali setannya ngoceh macem-macem. Aku enggak denger sendiri, tapi aku sempet ketawa saat itu. Entah apa, saya sekarang udah lupa.

c. Kisah (agak gossip)
Saya pernah disangka anak indigo. Wait... what?


5. Bullying (Yes, you read it right)
Aku emang enggak bisa berbaur benar-benar, dan hal itu mengundang bullying dari dua teman sekamarku. Sebut saja Gadis dan Mulan. Aku sih, yang dibully 4 tahun oleh setengah jumlah angkatan selama SD enggak masalah. Bedanya, di asrama (apalagi sekamar) kamu dibully 24 jam sehari. Bayangin aja gimana rasanya. Aku yakin orang biasa udah mau pindah sekolah.

Untungnya, sekolah saya membolehkan saya pulang seminggu sekali. (Aku pulang tiap Jum'at dan kembali hari Senin)


Apa yang berbeda dari sekolah Asrama dan sekolah biasa?

Satu, kamu enggak akan bisa jaga imej. Boro-boro jaga imej. Kamu dipantau 24/7 sama temen sekolah dan sekelasmu sendiri. Salah dikit jadi gossip.

Dua, sistem belajar. Kamu bisa nanya PR ke temen. Ngerjain bareng juga bisa. Nyontek? Jangan tanya :v saya jagonya Bahasa Inggris dan Matematika dulu.

Tiga, cuci-mencuci sendiri. Saya sih, yang pulang seminggu sekali dicuci di rumah pake mesin cuci. Tapi temen-temen saya nyuci sendiri.

Empat. Skema bangun pagi dan rutinitasnya.


Ini masih part 1, part dua akan menyusul di minggu berikutnya.


Tugas kalian adalah membuat 5 poin tadi untuk menciptakan sebuah Asrama.

Ubah beberapa peraturan untuk membuat tantangan.

Buatlah suasana di sekitar lingkungan sekolah dengan hiasan yang keren. Bisa mall? Atau lapangan besar? Atau jangan-jangan, kuburan? EH, IYA, SEKOLAHKU DEKET KUBURAN DAN PERNAH ADA YANG LIAT MACEM-MACEM DI KELAS 9 MUZDA. DAN ADA TANGISAN BAYI DI KELAS 8-NYA PAS PELAJARAN BAHASA INDONESIA.

Apapun, lakukan! Cobalah kreatif, dan share beberapa tips lain di kolom komentar. Saya out dulu. Capek :v Mau bobok.

Komentar

  1. Wehh, kita sama rohaluss!! sama-sama sekolah di sekolah semi boarding school. Cuma aku programnya gak asrama. Tapi aku cukup bersahabat dengan anak-anak yang ngambil program asrama. Mereka sering cerita kayak yg kamu sebutin diatas, cuma di sekolahku gak boleh bawa hp... wkwkwk ada satu hal yang kayaknya kurang nih, yaitu pembina asrama, temen2ku itu pada sering banget nyeritain tentang pembina asrama mereka yang nyebelin kek, baik kek... atau malah pembinanya rada nyeleneh gitu... wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pembina asrama saya sendiri enggak patut diceritakan. Kenapa? Pasangan suami-istri yang 6 tahun belum dikaruniai anak.

      Itu aja. Yang ada, saya baper nyeritain mereka. Kista, penyakit rahim, dan lain-lain... kan kasihan. Biasanya kita tutup mulut, beberapa bahkan kurang peduli...

      Ah, dan banyak yang membenci pembina saya.

      Entahlah nak.

      Hapus
  2. boleh gak kalau saya menulis novel tentang sekolahan yg berlatar di indonesia tapi nama sekolahan itu tidak pernah ada di indonesia atau lebih jelasnya sekolahan itu buatan imajinasi saya sendri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. That's fine by me. Gak ada masalah kalau kamu mau tetap bikin kisahnya ambigu secara latar negara - it works!



      Tapi FantasTeen GDICities Series bakal masalah :v //oi

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer